RSS

[UTS Audio] Realitas Jurnalis Televisi

Jurnalis televisi merupakan profesi yang tak asing bagi masyarakat, terutama mahasiswa dan jurnalis sendiri.
Bagaimana jurnalis televisi di mata mahasiswa ilmu komunikasi dan jurnalis media cetak?
Apa tanggapan jurnalis televisi terhadap keharusan untuk menjadi good looking?
Juga, bagaimana cara para jurnalis Televisi untuk agar selalu tampil maksimal?
Mari dengarkan wawancara dengan Enggy, Fajrin, dan Tammi sebagai mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Airlangga; Pahit S. Narottama sebagai jurnalis media cetak di Kalteng (Kalimantan Tengah) Pos, dan Jonathan Pratama yang berprofesi sebagai jurnalis televisi di Metro TV.
Selamat mendengarkan :)

http://soundcloud.com/lona-sastro/jurnalis-tv-dan-realita


[UTS Galeri Foto] Jurnalis Televisi, Cetak, Radio: Beda tapi Sama

Jurnalis televisi sering lebih dikenal masyarakat daripada jurnalis cetak dan lainnya. Padahal apa yang mereka lakukan dapat dibilang sama, hanya berbeda media broadcast-nya saja.


Televisi: Jonathan Pratama dalam Acara Traveller

Televisi: Gabriela Lordy dalam Acara Wisata Jelajah Kutho


Televisi: Jonathan Pratama Menjadi News Anchor Metro TV

Televisi: Gita Gowinda Memandu Acara Pojok7 di JTV


Televisi: Jonathan Pratama Saat Live Report


Radio: Gita Gowinda Saat Siaran

Cetak: Ketika Pahit S. Narottama Liputan di Bangkok

Cetak: Pahit S Narottama Mengerjakan Naskah Berita



Jurnalis sedang Mewawancarai Narasumber
Jurnalis dari Berbagai Media Meliput IEMC 2012

Sumber foto merupakan koleksi pribadi dari:
Pahit S. Narottama, S.Hut. Jurnalis SKH Kalteng Pos, Jawa Pos Group (profil)
Jonathan Pratama, S.H. Reporter Metro TV (profil)

Gita Gowinda. Presenter JTV,  Penyiar EBS (profil)
Renaldy Rio. Fotografer (profil)
Chrisnata Gita. Fotografer (profil)
Gabriela Lordy. Reporter acara Jelajah Kutho (profil)

[UTS Opini] Nggak Good Looking? Jangan Jadi Jurnalis Televisi Deh!


“Jadi reporter (jurnalis) wisata televisi kayaknya asyik deh! Soalnya bisa jalan-jalan, menjelajahi tempat-tempat eksotis yang belum pernah kita jamah.” Mungkin itulah yang bakal terlintas di kepala kita. Apalagi waktu melihat para reporter wisata kuliner mencicipi makanan-makanan yang unik dan maknyus, bisa-bisa langsung ngiler.
Tapi gimana kalau mendengar kata reporter televisi tanpa embel-embel wisata? Reporter televisi yang meliput berita, apa sih yang terlintas dalam pikiran kalian? “Seru” kah? “Ogah ah, capek”? Berbagai pendapat lain mungkin terlintas di kepala kita. Bahkan bisa aja timbul rasa iri bagi kita yang doyan jadi pusat perhatian.
Well, di balik semua pikiran-pikiran kita tentang jurnalis televisi itu, sadar nggak sih kalo mereka nggak ada yang jelek? Iya, nggak jelek. Perhatiin deh, pasti mereka minimal good looking atau enak dipandang lah.
Sepertinya tuntutan jurnalis televisi untuk memiliki penampilan good looking, telah menjadi salah satu syarat utama untuk bisa menjadi jurnalis TV. Tidak bisa dipungkiri, televisi memang mengandalkan adanya tampilan visual yang lebih apik meski tidak melupakan kualitas suara.
Bayangkan saja, jika yang ditampilkan TV bukanlah orang yang sedap dipandang, akankah audience-nya akan betah berlama-lama menyaksikan siaran? Tentu tidak. Kecuali jurnalis itu pandai melawak, namun saat menyampaikan berita tidak butuh lawakan bukan?
Anyway, dalam KBBI, jurnalis ialah orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita dalam surat kabar, dsb. Jadi, seharusnya syarat menjadi jurnalis yaitu memiliki semangat yang tinggi, keingintahuan yang besar, dan otak yang cemerlang. Namun yang perlu ditekankan di sini ialah tugas para jurnalis itu sama, yaitu mengumpulkan berita meskipun medianya berbeda.
Jurnalis cetak dan media selain televisi, yang bertampang pas-pasan, mungkin lebih beruntung karena tidak dituntut untuk bisa “menyenangkan” mata audience-nya. Namun mereka tentu harus selalu berpenampilan rapi untuk merepresentasikan medianya di depan narasumber. Sedangkan jurnalis televisi yang tidak good looking harus bisa puas berada di belakang layar melihat beritanya dibawakan oleh pembaca berita.
Lalu, apakah good looking akan menjamin seseorang dapat menjadi jurnalis televisi? Seharusnya tidak, good looking tanpa pengetahuan yang luas tentu tidak akan menjadi jurnalis televisi yang handal. Sebaliknya, otak cemerlang tanpa didukung penampilan yang cameraface sering tidak mendapat apresiasi layak sebagai jurnalis televisi.
Namun, ini bukanlah akhir segalanya, masih banyak jalan ke Roma. Bukan berarti seseorang yang good looking lantas diapresiasi berlebih dan yang bertampang pas-pasan tidak memiliki kesempatan. Ingat, sebagai seorang jurnalis dalam media apapun haruslah berpengetahuan luas agar tidak nampak bodoh dan memalukan. Pintar-pintarnya kita saja dalam memanfaatkan fasilitas dan teknologi yang tersedia.
So, masih ingin jadi jurnalis televisi?

Nicki Minaj yang Kontroversial



I don’t have a worst Idol moment. I’ve been spectacular,” jawab Nicki Minaj saat ditanya mengenai worst idol moments di American Idol (AI). Well, itulah jawaban yang bakal diperoleh jika bertanya pada juri AI yang overconfidence ini.
Seleb yang hobi berpakaian aneh ini kayaknya nggak bosen-bosen membuat ulah yang bikin haters­-nya makin benci. Salah satunya ya dari kata-katanya yang selalu menyakitkan saat memberi komentar di AI. "I'm gonna act like I didn't see that or hear it," kata Nicki. [sumber: The Hollywood Reporter]. Dia seperti kurang respek pada orang-orang di sekitarnya.
Kontroversi juga nggak pernah lepas dari perempuan bernama asli Onika Tanya Maraj ini. Salah satunya, saat menjadi juri American Idol. Nicki Minaj sering sekali berseteru dengan Mariah Carey, mereka sering saling menyindir bahkan Nicki pernah marah dalam satu episode American Idol. Namun uniknya, Nicki dan Mariah memiliki beberapa kesamaan dalam hal angka dan momen ketika mereka berusaha terlihat akur malah menjadi lucu [baca di sini].
Ngomong-ngomong tentang fashion, penampilan Nicki Minaj bisa dibilang sering nyeleneh atau lebih tepatnya hurting my eyes. Tabrak-tabrak warna yang nggak match malah bikin bilang “ah…my eyes!” *sambil nutup mata*. Tapi di balik itu semua, ternyata dia sudah menang berkali-kali di AMA, MTV Music Awards, dan BET. Dia berhasil menuai prestasi dengan 2 kali menang AMA dalam kategori Favorite Rap/Hip-Hop Artist dan 2 kali dalam kategori Favorite Rap/Hip-Hop Album. Selain itu, tentunya dia masih meraih penghargaan yang lain.
Well, pada dasarnya semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sih tapi kan it will be better if you’re not overconfidence and hurting everyone around you.

[Review Film] Di Balik Frekuensi, Cerita di Balik Media


Judul           : Di Balik Frekuensi
Durasi          : 144 menit 27 detik
Genre          : Dokumenter
Sutradara    : Ucu Agustin
Tahun Rilis : 2013

Awalnya, saya pikir film ini bakal banyak bercerita tentang frekuensi publik yang digunakan media-media dalm mentransmisikan informasi. Ternyata nggak seperti dugaan sih, tapi film dokumenter ini cukup bagus dalam mengungkap apa yang terjadi di balik media televisi sebenarnya. Hm... harusnya mungkin judulnya Di Balik Media Televisi ya? Hehehe.. (jayus). Anyway, Di Balik Frekuensi menyorot tentang konglomerasi media dan kesewenang-wenangannya demi kepentingan pribadi pemiliknya.
Film dimulai dengan prolog yang menyuguhkan adanya konglomerasi media. Potongan-potongan adegan mengenai keberpihakan media terhadap para pemiliknya, dimunculkan. Salah satu contohnya, saat para pemain Opera Van Java (OVJ) Trans7 memberi salam pada istri Chairul Tanjung, pemilik Transcorporation. Lalu, iklan-iklan partai politik (parpol) yang banyak bermunculan di media, seperti iklan Nasional Demokrat yang munculnya mencapai ratusan dalam RCTI dan Global TV pada tahun 2012. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena Haritanoe Sudibyo sebagai pemilik media, merupakan ketua parpol tersebut saat itu.
Kemudian inti film beralih pada Luviana, reporter Metro TV yang telah mengabdi selama sepuluh tahun. Dia bahkan menjabat menjadi asisten produser sebuah acara di situ. Anehnya, meskipun demikian, kenyataannya dia bekerja layaknya produser daripada asisten produser. Konflik mulai muncul saat Luvi —panggilannya— mulai mempertanyakan jabatan dan gaji yang seharusnya ia peroleh kepada manajemen Metro TV.
Setelah sekian lama hanya dijanjikan akan dibuatkan surat keterangan pekerjaan, Luvi merasakan ketidakadilan. Dia malah dipindahtugaskan dari bagian news ke HRD, bahkan sempat dilarang absen dan memasuki news room. Luvi yang tidak mendapat kejelasan, lalu bersama teman-teman serikat pekerja dan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) mengadakan demo pada Metro TV agar Luvi dapat bekerja kembali. Seketika, masalah-masalah lain bermunculan dan konflik antara Luvi dan Metro TV kian meruncing.
Di sisi lain, ditayangkan pula perjuangan Hadi Suwandi yang berjalan kaki dari Porong Sidoarjo ke Jakarta demi menuntut haknya dan warga korban lumpur Lapindo. Hadi didampingi seorang temannya selama perjalanan, bahkan sempat menolak dan memarahi reporter TV One. Hal ini karena TV One menyatakan bahwa Hadi bukanlah warga Sidoarjo yang sengaja mencari sensasi. Ending yang sangat memilukan bagi Hadi, apalagi kalau bukan karena campur tangan pemilik media yang sekaligus pengusaha PT Lapindo.
Prolog ditayangkan dengan pernyataan bahwa adanya keberpihakan media terhadap kepentingan pemilik media yang notabenenya politisi. Dari keseluruhan 1248 radio, 1706 media cetak, dan 76 stasiun TV, ternyata hanya dikuasai oleh 12 orang. Dengan begitu, media tidak lagi objektif dalam menyampaikan berita, bahkan menghalangi kebebasan pembentukan serikat pekerja.
Di Balik Frekuensi menyadarkan kita, bahwa nggak selamanya bekerja di media itu menyenangkan. Nggak selamanya jadi jurnalis itu keren dan terkenal. Nggak selamanya juga berita yang disampaikan media 100% benar. Menjadi berbeda itu biasa tapi juga berbahaya, seperti yang dilakukan Luvi dan Hadi.

Meskipun
                                "in media we trust"  – anynomous

tapi                                          

Nggak semua yang lo liat itu bener”
– slogan  iklan permen –

Tanpa KTM, Tak Boleh ke Perpustakaan?




“Sebel! Masa tadi aku ke perpus nggak boleh masuk coba? Terus aku kalo mau pinjem buku buat skripsi gimana?” omel Cindy, mahasiswa Komunikasi Unair 2010. Apa yang terjadi dengan perpustakaan kampus B Universitas Airlangga?
Ternyata, sejak bulan Februari lalu telah diberlakukan peraturan: hanya boleh masuk menggunakan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)-nya sendiri. Selain itu, ada pula aturan baru yang mengagetkan: tas harus dititipkan meskipun hanya masuk ke wifi zone. Padahal sebelummya, jika hanya ke wifi zone, pengunjung tidak perlu menitipkan tasnya. Mengapa aturan-aturan itu diberlakukan?
“Aturan itu diadakan supaya lebih tertib dan nyaman,” aku petugas informasi yang tidak saya ketahui namanya. Hm..benarkah demikian? Jika ditanyakan pada salah satu mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya, dia menjawab, “Bikin males ke perpus. Masa butuh ke perpus gak boleh? Ini kan buat ngerjain tugas. Lagipula KTMku dibuat pinjem buku di KPS (Kantor Program Studi). Padahal dulu (masuk perpus) masih boleh pake NIM.”
Menanggapi gerutuan mahasiswa tersebut, bagaimana solusi yang ditawarkan perpustakaan? Wanita bagian informasi menimpali, “Bukan ditutup untuk umum. Dari universitas negeri (atau PTN) kan bisa menggunakan kartu sakti, sedangkan dari universitas swasta (PTS) bisa melakukan registrasi seharga 5000 Rupiah per hari.” Lalu bagi mahasiswa Unair yang KTM-nya sedang digunakan untuk meminjam buku di fakultas atau prodi, diberi solusi untuk menunjukkan fotocopy KRS (Kartu Rencana Studi) atau KRS (Kartu Rencana Studi).
sensor KTM dan gate masuk
Nah, apakah dengan berlakunya peraturan tersebut, mahasiswa memang semakin malas untuk mengunjungi perpustakaan? Atau malah sebenarnya solusi yang ditawarkan telah cukup memudahkan?