Jurnalis televisi merupakan profesi yang tak asing bagi masyarakat, terutama mahasiswa dan jurnalis sendiri.
Bagaimana jurnalis televisi di mata mahasiswa ilmu komunikasi dan jurnalis media cetak?
Apa tanggapan jurnalis televisi terhadap keharusan untuk menjadi good looking?
Juga, bagaimana cara para jurnalis Televisi untuk agar selalu tampil maksimal?
Mari dengarkan wawancara dengan Enggy, Fajrin, dan Tammi sebagai mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Airlangga; Pahit S. Narottama sebagai jurnalis media cetak di Kalteng (Kalimantan Tengah) Pos, dan Jonathan Pratama yang berprofesi sebagai jurnalis televisi di Metro TV.
Selamat mendengarkan :)
http://soundcloud.com/lona-sastro/jurnalis-tv-dan-realita
[UTS Audio] Realitas Jurnalis Televisi
Wrote by
Lona Sastro
on Friday, April 26, 2013
Labels:
Jurnalistik Online,
Kuliah
/
Comments: (0)
[UTS Galeri Foto] Jurnalis Televisi, Cetak, Radio: Beda tapi Sama
Wrote by
Lona Sastro
Labels:
Jurnalistik Online,
Kuliah
/
Comments: (0)
Jurnalis televisi sering lebih dikenal masyarakat daripada jurnalis cetak dan lainnya. Padahal apa yang mereka lakukan dapat dibilang sama, hanya berbeda media broadcast-nya saja.
![]() |
| Televisi: Jonathan Pratama dalam Acara Traveller |
![]() |
| Televisi: Gabriela Lordy dalam Acara Wisata Jelajah Kutho |
![]() |
| Televisi: Jonathan Pratama Menjadi News Anchor Metro TV |
![]() |
| Televisi: Gita Gowinda Memandu Acara Pojok7 di JTV |
![]() |
| Televisi: Jonathan Pratama Saat Live Report |
![]() |
| Radio: Gita Gowinda Saat Siaran |
![]() |
| Cetak: Ketika Pahit S. Narottama Liputan di Bangkok |
![]() |
| Cetak: Pahit S Narottama Mengerjakan Naskah Berita |
![]() |
| Jurnalis sedang Mewawancarai Narasumber |
![]() |
| Jurnalis dari Berbagai Media Meliput IEMC 2012 |
Sumber foto merupakan koleksi pribadi dari:
Pahit S. Narottama, S.Hut. Jurnalis SKH Kalteng Pos, Jawa Pos Group (profil)
Jonathan Pratama, S.H. Reporter Metro TV (profil)
Gita Gowinda. Presenter JTV, Penyiar EBS (profil)
Renaldy Rio. Fotografer (profil)
Chrisnata Gita. Fotografer (profil)
Gabriela Lordy. Reporter acara Jelajah Kutho (profil)
[UTS Opini] Nggak Good Looking? Jangan Jadi Jurnalis Televisi Deh!
Wrote by
Lona Sastro
on Thursday, April 25, 2013
Labels:
Jurnalistik Online,
Kuliah,
Unair
/
Comments: (1)
“Jadi reporter
(jurnalis) wisata televisi kayaknya asyik deh! Soalnya bisa jalan-jalan,
menjelajahi tempat-tempat eksotis yang belum pernah kita jamah.” Mungkin itulah
yang bakal terlintas di kepala kita. Apalagi waktu melihat para reporter wisata
kuliner mencicipi makanan-makanan yang unik dan maknyus, bisa-bisa langsung ngiler.
Tapi gimana
kalau mendengar kata reporter televisi tanpa embel-embel wisata? Reporter televisi
yang meliput berita, apa sih yang terlintas dalam pikiran kalian? “Seru” kah? “Ogah ah, capek”? Berbagai pendapat lain mungkin
terlintas di kepala kita. Bahkan bisa aja timbul rasa iri bagi kita yang doyan jadi pusat perhatian.
Well, di balik semua pikiran-pikiran
kita tentang jurnalis televisi itu, sadar nggak sih kalo mereka nggak ada yang
jelek? Iya, nggak jelek. Perhatiin deh, pasti mereka minimal good looking atau enak dipandang lah.
Sepertinya
tuntutan jurnalis televisi untuk memiliki penampilan good looking, telah menjadi salah satu syarat utama untuk bisa
menjadi jurnalis TV. Tidak bisa dipungkiri, televisi memang mengandalkan adanya
tampilan visual yang lebih apik meski
tidak melupakan kualitas suara.
Bayangkan saja, jika
yang ditampilkan TV bukanlah orang yang sedap dipandang, akankah audience-nya akan betah berlama-lama
menyaksikan siaran? Tentu tidak. Kecuali jurnalis itu pandai melawak, namun
saat menyampaikan berita tidak butuh lawakan bukan?
Anyway, dalam KBBI, jurnalis ialah orang
yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita dalam surat kabar, dsb. Jadi,
seharusnya syarat menjadi jurnalis yaitu memiliki semangat yang tinggi,
keingintahuan yang besar, dan otak yang cemerlang. Namun yang perlu ditekankan
di sini ialah tugas para jurnalis itu sama, yaitu mengumpulkan berita meskipun medianya
berbeda.
Jurnalis cetak
dan media selain televisi, yang bertampang pas-pasan, mungkin lebih beruntung
karena tidak dituntut untuk bisa “menyenangkan” mata audience-nya. Namun mereka tentu harus selalu berpenampilan rapi
untuk merepresentasikan medianya di depan narasumber. Sedangkan jurnalis
televisi yang tidak good looking
harus bisa puas berada di belakang layar melihat beritanya dibawakan oleh pembaca
berita.
Lalu, apakah good looking akan menjamin seseorang
dapat menjadi jurnalis televisi? Seharusnya tidak, good looking tanpa pengetahuan yang luas tentu tidak akan menjadi
jurnalis televisi yang handal. Sebaliknya, otak cemerlang tanpa didukung penampilan
yang cameraface sering tidak mendapat
apresiasi layak sebagai jurnalis televisi.
Namun, ini
bukanlah akhir segalanya, masih banyak jalan ke Roma. Bukan berarti seseorang
yang good looking lantas diapresiasi
berlebih dan yang bertampang pas-pasan tidak memiliki kesempatan. Ingat, sebagai
seorang jurnalis dalam media apapun haruslah berpengetahuan luas agar tidak nampak
bodoh dan memalukan. Pintar-pintarnya kita saja dalam memanfaatkan fasilitas
dan teknologi yang tersedia.
So, masih ingin jadi jurnalis televisi?
Nicki Minaj yang Kontroversial
Wrote by
Lona Sastro
on Thursday, April 11, 2013
/
Comments: (0)
“I don’t have a worst Idol moment. I’ve been
spectacular,” jawab Nicki Minaj saat ditanya mengenai worst idol moments di American Idol (AI).
Well, itulah jawaban yang bakal
diperoleh jika bertanya pada juri AI yang overconfidence
ini.
Seleb yang hobi berpakaian
aneh ini kayaknya nggak bosen-bosen membuat ulah yang bikin haters-nya makin benci. Salah satunya
ya dari kata-katanya yang selalu menyakitkan saat memberi komentar di AI. "I'm
gonna act like I didn't see that or hear it," kata Nicki. [sumber: The Hollywood Reporter]. Dia seperti kurang respek pada orang-orang di sekitarnya.
Kontroversi juga
nggak pernah lepas dari perempuan bernama asli Onika Tanya Maraj ini. Salah
satunya, saat menjadi juri American Idol. Nicki Minaj sering sekali berseteru
dengan Mariah Carey, mereka sering saling menyindir bahkan Nicki pernah marah
dalam satu episode American Idol.
Namun uniknya, Nicki dan Mariah memiliki beberapa kesamaan dalam hal angka
dan momen ketika mereka berusaha terlihat akur malah menjadi lucu [baca di sini].
Ngomong-ngomong
tentang fashion, penampilan Nicki Minaj bisa dibilang sering nyeleneh atau
lebih tepatnya hurting my eyes.
Tabrak-tabrak warna yang nggak match
malah bikin bilang “ah…my eyes!” *sambil
nutup mata*. Tapi di balik itu semua, ternyata dia sudah menang berkali-kali di
AMA, MTV Music Awards, dan BET. Dia berhasil menuai prestasi dengan 2 kali menang
AMA dalam kategori Favorite Rap/Hip-Hop Artist dan 2 kali dalam kategori Favorite
Rap/Hip-Hop Album. Selain itu, tentunya dia masih meraih penghargaan yang lain.
Well, pada dasarnya semua orang
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sih tapi kan it will be better if you’re not
overconfidence and hurting everyone around you.
[Review Film] Di Balik Frekuensi, Cerita di Balik Media
Judul : Di Balik Frekuensi
Durasi : 144 menit 27
detik
Genre : Dokumenter
Sutradara : Ucu Agustin
Tahun Rilis : 2013
Awalnya, saya
pikir film ini bakal banyak bercerita tentang frekuensi publik yang digunakan
media-media dalm mentransmisikan informasi. Ternyata nggak seperti dugaan sih,
tapi film dokumenter ini cukup bagus dalam mengungkap apa yang terjadi di balik
media televisi sebenarnya. Hm... harusnya mungkin judulnya Di Balik Media
Televisi ya? Hehehe.. (jayus). Anyway, Di Balik Frekuensi menyorot tentang konglomerasi
media dan kesewenang-wenangannya demi kepentingan pribadi pemiliknya.
Film dimulai
dengan prolog yang menyuguhkan adanya konglomerasi media. Potongan-potongan
adegan mengenai keberpihakan media terhadap para pemiliknya, dimunculkan. Salah
satu contohnya, saat para pemain Opera Van Java (OVJ) Trans7 memberi salam pada
istri Chairul Tanjung, pemilik Transcorporation. Lalu, iklan-iklan partai
politik (parpol) yang banyak bermunculan di media, seperti iklan Nasional
Demokrat yang munculnya mencapai ratusan dalam RCTI dan Global TV pada tahun
2012. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena Haritanoe Sudibyo sebagai
pemilik media, merupakan ketua parpol tersebut saat itu.
Kemudian inti
film beralih pada Luviana, reporter Metro TV yang telah mengabdi selama sepuluh
tahun. Dia bahkan menjabat menjadi asisten produser sebuah acara di situ.
Anehnya, meskipun demikian, kenyataannya dia bekerja layaknya produser daripada
asisten produser. Konflik mulai muncul saat Luvi —panggilannya— mulai
mempertanyakan jabatan dan gaji yang seharusnya ia peroleh kepada manajemen
Metro TV.
Setelah sekian
lama hanya dijanjikan akan dibuatkan surat keterangan pekerjaan, Luvi merasakan
ketidakadilan. Dia malah dipindahtugaskan dari bagian news ke HRD, bahkan sempat dilarang absen dan memasuki news room. Luvi yang tidak mendapat
kejelasan, lalu bersama teman-teman serikat pekerja dan Aliansi Jurnalis
Indonesia (AJI) mengadakan demo pada Metro TV agar Luvi dapat bekerja kembali.
Seketika, masalah-masalah lain bermunculan dan konflik antara Luvi dan Metro TV
kian meruncing.
Di sisi lain, ditayangkan
pula perjuangan Hadi Suwandi yang berjalan kaki dari Porong Sidoarjo ke Jakarta
demi menuntut haknya dan warga korban lumpur Lapindo. Hadi didampingi seorang
temannya selama perjalanan, bahkan sempat menolak dan memarahi reporter TV One.
Hal ini karena TV One menyatakan bahwa Hadi bukanlah warga Sidoarjo yang
sengaja mencari sensasi. Ending yang
sangat memilukan bagi Hadi, apalagi kalau bukan karena campur tangan pemilik
media yang sekaligus pengusaha PT Lapindo.
Prolog ditayangkan
dengan pernyataan bahwa adanya keberpihakan media terhadap kepentingan pemilik
media yang notabenenya politisi. Dari keseluruhan 1248 radio, 1706 media cetak,
dan 76 stasiun TV, ternyata hanya dikuasai oleh 12 orang. Dengan begitu, media tidak
lagi objektif dalam menyampaikan berita, bahkan menghalangi kebebasan pembentukan
serikat pekerja.
Di Balik
Frekuensi menyadarkan kita, bahwa nggak selamanya bekerja di media itu
menyenangkan. Nggak selamanya jadi jurnalis itu keren dan terkenal. Nggak
selamanya juga berita yang disampaikan media 100% benar. Menjadi berbeda itu
biasa tapi juga berbahaya, seperti yang dilakukan Luvi dan Hadi.
Meskipun
"in media we trust" – anynomous
tapi
“Nggak semua yang lo liat itu bener”
– slogan iklan permen –
Tanpa KTM, Tak Boleh ke Perpustakaan?
“Sebel! Masa
tadi aku ke perpus nggak boleh masuk coba? Terus aku kalo mau pinjem buku buat skripsi gimana?” omel Cindy, mahasiswa
Komunikasi Unair 2010. Apa yang terjadi dengan perpustakaan kampus B
Universitas Airlangga?
Ternyata, sejak
bulan Februari lalu telah diberlakukan peraturan: hanya boleh masuk menggunakan
KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)-nya sendiri. Selain itu, ada pula aturan baru yang
mengagetkan: tas harus dititipkan meskipun hanya masuk ke wifi zone. Padahal
sebelummya, jika hanya ke wifi zone, pengunjung tidak perlu menitipkan tasnya. Mengapa
aturan-aturan itu diberlakukan?
“Aturan itu
diadakan supaya lebih tertib dan nyaman,” aku petugas informasi yang tidak saya ketahui namanya. Hm..benarkah
demikian? Jika ditanyakan pada salah satu mahasiswa yang tidak mau disebutkan
namanya, dia menjawab, “Bikin males ke perpus. Masa butuh ke perpus gak boleh?
Ini kan buat ngerjain tugas. Lagipula KTMku dibuat pinjem buku di KPS (Kantor Program Studi). Padahal dulu (masuk
perpus) masih boleh pake NIM.”
Menanggapi
gerutuan mahasiswa tersebut, bagaimana solusi yang ditawarkan perpustakaan? Wanita
bagian informasi menimpali, “Bukan ditutup untuk umum. Dari universitas negeri
(atau PTN) kan bisa menggunakan kartu sakti, sedangkan dari universitas swasta
(PTS) bisa melakukan registrasi seharga 5000 Rupiah per hari.” Lalu bagi
mahasiswa Unair yang KTM-nya sedang digunakan untuk meminjam buku di fakultas
atau prodi, diberi solusi untuk menunjukkan fotocopy KRS (Kartu Rencana Studi) atau
KRS (Kartu Rencana Studi).

















